Prodi Tadris Kimia UIN Mahmud Yunus Batusangkar Angkat Peluang dan Tantangan AI dalam Pembelajaran dan Riset Mahasiswa

by | Sep 18, 2025 | Berita, Tadris Kimia

Sumber Foto : Mimi Herman, M.Pd

Batusangkar, 18 September 2025_ Program Studi Tadris Kimia Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadapi tantangan era digital dengan menyelenggarakan Visiting Doctor Program bertema “Memanfaatkan Artificial Intelligence dalam Mendukung Pembelajaran dan Penelitian Mahasiswa Pendidikan Kimia: Peluang dan Tantangan”, pada Kamis 18 September 2025 bertempat di L Studio, Gedung L FTIK. Kegiatan ini diikuti oleh 34 mahasiswa Program Studi Tadris Kimia dari berbagai semester serta 7 orang dosen, dan menghadirkan Dr. Riga, S.Pd., M.Si sebagai narasumber utama. Acara berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta, seiring meningkatnya peran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan dan penelitian.

Ketua Program Studi Tadris Kimia, Mimi Herman, M.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan Visiting Doctor ini merupakan langkah strategis prodi dalam merespons perkembangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Menurutnya, AI tidak hanya menjadi tren teknologi, tetapi telah menjadi kebutuhan dalam mendukung pembelajaran dan riset yang lebih efektif, adaptif, dan berbasis data. “Melalui kegiatan ini, kami ingin membekali mahasiswa dan dosen dengan pemahaman komprehensif tentang bagaimana AI dapat dimanfaatkan secara bijak dalam pembelajaran kimia dan penelitian ilmiah, tanpa mengabaikan etika akademik,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, narasumber menyoroti berbagai peluang pemanfaatan AI, mulai dari penggunaan simulasi laboratorium virtual, media pembelajaran interaktif, hingga sistem pembelajaran adaptif yang mampu menyesuaikan materi dengan kebutuhan mahasiswa. AI juga dinilai sangat membantu mahasiswa dalam memahami konsep-konsep kimia yang abstrak melalui visualisasi cerdas. Tak hanya itu, AI juga berperan sebagai research assistant yang dapat membantu penelusuran literatur, analisis data kuantitatif dan kualitatif, hingga mendukung proses penulisan dan publikasi karya ilmiah mahasiswa. Meski menawarkan banyak kemudahan, pemanfaatan AI juga menyimpan sejumlah tantangan. Isu academic dishonesty, seperti plagiarisme dan ketergantungan berlebihan pada teknologi, menjadi perhatian serius dalam diskusi. Selain itu, keterbatasan literasi AI di kalangan sivitas akademika serta persoalan etika dan keamanan data turut menjadi sorotan. “Kuncinya bukan melarang AI, tetapi membangun kesadaran kritis agar AI digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir ilmiah,” tegas narasumber dalam sesi diskusi.

Sumber Foto : Mimi Herman, M.Pd.

Suasana diskusi berlangsung sangat aktif, mahasiswa dan dosen saling bertukar pandangan mengenai pengalaman, peluang, serta kekhawatiran mereka terhadap penggunaan AI dalam dunia akademik. Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai aplikasi AI yang relevan untuk pembelajaran dan penelitian, sehingga memperoleh gambaran praktis yang dapat langsung diterapkan. Peserta berharap adanya sesi praktik langsung yang lebih panjang pada kegiatan serupa di masa mendatang. Sebagai tindak lanjut, Program Studi Tadris Kimia berencana mengintegrasikan materi Visiting Doctor ke dalam perkuliahan, khususnya pada mata kuliah metodologi penelitian dan strategi pembelajaran kimia. Selain itu, prodi juga merencanakan workshop lanjutan berbasis praktik serta pembentukan kelompok belajar AI untuk mendukung penelitian dan penyusunan skripsi mahasiswa.