
Sumber Foto: Dokumentasi Prodi Tadris Biologi
Sawahlunto, 14 November 2025 — Mahasiswa Program Studi Tadris Biologi angkatan 2024 Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar melaksanakan Kuliah Lapangan Ekologi 2025 dengan mengusung tema “Membangun dan menjunjung tinggi solidaritas, kekeluargaan, serta kedekatan dengan alam melalui kegiatan kuliah lapangan ekologi.” Kegiatan ini berlangsung di kawasan Geopark Nasional Sawahlunto, tepatnya di Desa Tumpuk Tangah yang dikenal dengan lanskap alamnya yang masih asri.
Perwakilan Badan Pengelola Geopark Nasional Sawahlunto, Sarfina, menjelaskan bahwa kuliah lapangan bukan hanya ruang untuk belajar teori dan praktik, tetapi juga wahana membangun karakter dan kebersamaan.
“Melalui kerja sama di lapangan, mahasiswa belajar saling mendukung, menghargai peran masing-masing, dan menyelesaikan tantangan bersama sehingga tumbuh solidaritas yang kuat. Interaksi intens selama kegiatan juga menumbuhkan rasa kekeluargaan, baik antar mahasiswa maupun dengan pendamping serta masyarakat sekitar,” ungkapnya.
Lebih jauh, Sarfina menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam pengamatan ekosistem memberikan dampak besar terhadap kemampuan mereka memahami dan menghargai alam secara lebih dekat. “Kuliah lapangan bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membentuk kepedulian dan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan. Dalam kegiatan ini, kami juga mengenalkan tata cara kepemanduan geowisata kepada anggota Pokdarwis yang ikut terlibat,” tambahnya.

Sumber: Dokumentasi Prodi Tadris Biologi
Dosen pendamping, Dr. Dwi Rini Kurnia Fitri, M.Si, turut memberikan apresiasi terhadap capaian mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa fokus utama kegiatan ini adalah penerapan langsung metode pengumpulan data ekologi.
“Mahasiswa berhasil melakukan inventarisasi fauna lokal, khususnya kupu-kupu, yang ditemukan dalam berbagai jenis di wilayah Desa Tumpuk Tangah. Keanekaragaman kupu-kupu yang tinggi menunjukkan kualitas lingkungan setempat yang masih sangat baik,” jelasnya.
Menurut Dr. Rini, data temuan tersebut menjadi informasi awal yang berpotensi dikembangkan sebagai dasar eduwisata berbasis biodiversitas. “Selain fauna, keindahan persawahan Desa Tumpuk Tangah menjadi daya tarik tersendiri. Lanskap yang asri memberi kesempatan emas bagi mahasiswa untuk mempelajari interaksi antara spesies dan habitatnya secara langsung,” ujarnya.
Sementara itu, dosen lainnya, Atiqa Zhafira Syahputri Rinaldi, M.Si, menambahkan bahwa kegiatan lapangan semakin kaya dengan adanya transfer pengetahuan lokal dari warga setempat. Mahasiswa mempelajari etnobotani, khususnya pemanfaatan tumbuhan liar dalam kehidupan sehari-hari.
“Warga memanfaatkan simantuang sebagai bahan sayur dalam gulai ayam, sedangkan kucai—yang secara lokal diidentifikasi termasuk famili Leguminosae—memberi cita rasa asam pada gulai ikan. Untuk pengobatan tradisional, tumbuhan talao (Chromolaena odorata) digunakan sebagai obat luka. Pengetahuan ini menunjukkan bagaimana masyarakat mampu mengelola dan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara bijaksana,” jelas Tiqa.
Kegiatan kuliah lapangan ini tidak hanya memperkaya wawasan akademik mahasiswa, tetapi juga menegaskan bahwa Geopark Nasional Sawahlunto merupakan kawasan strategis bagi pengembangan pembelajaran berbasis alam yang menggabungkan aspek geologi, biologi, dan budaya. Lingkungan alam yang kaya serta keberagaman sosial-budaya masyarakat menjadi laboratorium terbuka bagi mahasiswa untuk memperluas kompetensi dan memperdalam keterampilan ilmiah.
Dengan selesainya rangkaian kegiatan ini, mahasiswa Tadris Biologi UIN Mahmud Yunus Batusangkar diharapkan mampu membawa pengalaman berharga, bukan hanya dalam bidang ekologi, tetapi juga dalam membangun solidaritas, kekeluargaan, dan kecintaan terhadap alam sebagai bagian dari jati diri ilmiah mereka. (UE)
