Batusangkar, Program Studi Tadris Matematika UIN Mahmud Yunus Batusangkar kembali menggelar Seminar Pendidikan Nasional yang fokus pada isu fundamental dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Rabu 03 September 2025 dengan menghadirkan pakar pendidikan dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau Prof. Dr. Zubaidah Amir, M.Z., M.Pd., judul bahasan yang provokatif, “Mendorong Transformasi Berdampak melalui Penerapan Deep Learning dalam Kurikulum Merdeka”. Prof. Zubaidah mampu memantik diskusi mendalam di antara ratusan peserta yang terdiri dari akademisi, guru, dan mahasiswa. Ia juga menjelaskan bahwa “deep learning”, bukanlah kecerdasan buatan (AI) dan sekadar konsep futuristik, melainkan sebuah pendekatan pedagogis yang menekankan pada pemahaman konsep secara mendalam, mendorong siswa untuk memahami esensi materi, membangun koneksi antar-konsep, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. “Kurikulum Merdeka hanya bisa tercapai jika guru mampu menghadirkan meaningfull, mindfull dan joyfull serta memfasilitasi siswa dalam pembelajaran. Keleluasaan pada kurikulum ini harus diisi dengan strategi pembelajaran yang membuat siswa benar-benar paham ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’, bukan hanya ‘apa’ jelasnya”. Menguraikan bahwa pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir kritis, menghubungkan satu konsep dengan konsep lainnya, dan mampu menerapkan ilmu dalam konteks dunia nyata. “Inilah transformasi berdampak yang kita cari. Siswa tidak lagi menjadi penerima pasif, melainkan pembangun pengetahuan yang aktif dan reflektif,” tambah Prof. Zubaidah.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Program Studi Tadris Matematika Ummul Huda, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyoroti relevansi topik ini bagi para pendidik. “Di tengah banjir informasi, kemampuan untuk belajar secara mendalam adalah keterampilan bertahan hidup. Tugas kita sebagai pendidik adalah membekali siswa dengan kemampuan itu,” ujarnya. Dukungan penuh juga datang dari Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Bapak Ridwal Trisoni, M.Pd., yang turut hadir dalam seminar. Ia mengapresiasi inisiatif prodi untuk mengangkat diskusi substansial yang langsung menyentuh jantung praktik pengajaran di kelas.
Seminar ini sukses menjadi forum pencerahan, mengingatkan kembali bahwa inovasi terbesar dalam pendidikan seringkali bukan terletak pada alat, melainkan pada perubahan cara pandang dan pendekatan dalam proses belajar-mengajar itu sendiri.
