Batusangkar, 6 Agustus 2025 — Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Mahmud Yunus Batusangkar menggelar Virtual Seminar Pendidikan Nasional dalam rangka program Visiting Doktor Tadris Biologi. Mengusung tema “Transformasi Pendidikan Holistik dalam Pembelajaran Biologi melalui Pemanfaatan Kearifan Lokal untuk Mempersiapkan Generasi Berkarakter 2045,” kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus inovasi untuk Pendidikan Biologi berbasis lokalitas dan nilai holistik.
Seminar dibuka oleh Dekan FTIK, Dr. Ridwal Trisoni, S.Ag., M.Pd., yang menekankan pentingnya peran kearifan lokal dalam pengembangan pembelajaran biologi. Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa seminar ini bukan hanya ajang akademik biasa, tetapi momentum untuk memperkaya wawasan tentang pendekatan-pendekatan baru dalam pembelajaran Biologi yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal dan sesuai dengan Visi UIN Mahmud Yunus Batusangkar adalah integrasi-interkoneksi dalam keilmuan bereputasi global dan berkearifan lokal. Hal ini harus terwujud nyata dalam strategi pembelajaran biologi yang tidak tercerabut dari akar budaya kita,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara UIN Mahmud Yunus Batusangkar dan UIN Palangka Raya sebagai bentuk sinergi akademik menuju peningkatan mutu bersama.
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Noor Hujjatusnaini, M.Pd. dari UIN Palangka Raya, membedah konsep pendidikan holistik dalam konteks pembelajaran biologi. Menurutnya, pendidikan tidak seharusnya hanya berfokus pada aspek kognitif semata. Justru, pendidikan yang baik harus mencakup pengembangan utuh peserta didik, mencakup: dimensi afektif, spiritual, sosial, dan fisik. “Peserta didik bukan sekadar objek pembelajaran atau wadah untuk menampung pengetahuan. Mereka adalah manusia utuh yang perlu dibina secara menyeluruh,” jelasnya. Dalam kerangka itu, pembelajaran biologi dapat menjadi lebih bermakna dengan menyentuh dimensi-dimensi tersebut, dan salah satu pintu masuk terbaiknya adalah melalui integrasi kearifan lokal.
Dr. Noor menekankan bahwa kearifan lokal merupakan kunci penting dalam pendidikan holistik di Indonesia. Kekayaan budaya lokal, mulai dari pengetahuan tradisional, nilai-nilai leluhur, praktik pertanian, hingga cerita rakyat, menyimpan potensi besar untuk membentuk karakter peserta didik. Dalam konteks pembelajaran Biologi, kearifan lokal dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang konkret dan dekat dengan kehidupan siswa. Misalnya, dalam topik farmakologi, peserta didik bisa belajar dari tanaman obat tradisional yang digunakan oleh masyarakat lokal. Dalam bidang pertanian, praktik bercocok tanam warisan leluhur bisa menjadi media untuk memahami prinsip ekologi secara nyata. Menariknya, cerita rakyat pun bisa diangkat menjadi bagian dari pembelajaran. Sebagai contoh, mahasiswa di UIN Palangka Raya telah mengangkat legenda-legenda lokal sebagai bahan tugas akhir, yang kemudian dikaji melalui pendekatan ilmiah dan eksperimen biologi. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya sendiri.
Transformasi pembelajaran biologi berbasis kearifan lokal dan pendidikan holistik ini sejatinya merupakan investasi jangka panjang untuk menyambut Indonesia Emas 2045. Generasi yang diharapkan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, emosional, sosial, dan memiliki kecintaan terhadap budaya serta alamnya. Seminar ini menjadi langkah nyata bahwa dunia pendidikan tinggi, khususnya pada bidang tadris biologi, telah bergerak menuju arah yang lebih kontekstual, integratif, dan manusiawi.
