Kupas Tuntas Proses Berpikir Pseudo-Translasi dalam Representasi Matematis 

by | Jul 30, 2025 | Berita, Tadris Matematika

Batusangkar, 30 Juli 2025 – Asosiasi Dosen Matematika dan Pendidikan/Tadris Matematika (Admapeta) merupakan organisasi yang menghimpun para dosen dari program studi matematika, pendidikan matematika, dan statistika di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) seluruh Indonesia. Asosiasi ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi di bidang matematika, statistika, dan pendidikan matematika melalui berbagai kegiatan seperti rapat koordinasi, workshop kurikulum, dan kerjasama antar program studi sebagaimana MoU yang telah ditandatangani tahun lalu.

Admapeta ini pada 30 Juli 2025 kembali menggelar webinar ilmiah yang menarik perhatian para akademisi dan praktisi pendidikan matematika di seluruh Indonesia dengan dipandu oleh Dwi Shuinta Rahayu, M.Pd., dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai moderator. Ada 3 orang narasumber dalam kegiatan webinar, diantaranya: (1) Dr. Iyo Maryono, M.Pmat., CMEP dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang membahas tentang “Porsi Kemampuan Pembuktian Matematika di Sekolah”. (2) Dr. Sumbaji Putranto, M.Pd dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta membahas tentang “Mathematica for All: Hambatan dan Kebutuhan Mengembangkan Kecakapan Matematis Siswa dengan Gangguan Penglihatan di Kelas Inklusi”. (3) Dr. Dona Afriyani, S.Si., M.Pd., merupakan dosen matematika UIN Mahmud Yunus Batusangkar mengusung topik “Karakteristik Proses Berpikir Pseudo-Translasi antara Representasi Matematis”, dalam paparannya, ia menyoroti fenomena pseudo-translasi, yaitu kondisi ketika mahasiswa tampak berhasil melakukan translasi representasi, tetapi sebenarnya terjadi kesalahan konsep atau miskonsepsi dalam pemahaman matematika.

Dr. Dona, dikenal aktif dalam penelitian di bidang kognisi matematis, membahas secara mendalam mengenai bentuk-bentuk kesalahan dan strategi berpikir mahasiswa ketika melakukan translasi antar representasi dari verbal ke simbolik, dari grafik ke tabel, dan bentuk lainnya. “Pseudo-translasi sering tidak terlihat di permukaan, karena secara struktur jawaban terlihat benar, namun secara makna tidak sesuai dengan konsep matematis yang seharusnya,” ungkap Dr. Dona. Ia menjelaskan bahwa proses berpikir pseudo-translasi ditandai oleh penggunaan strategi otomatis tanpa pemahaman konseptual yang mendalam. Contohnya, mahasiswa dapat mampu menggambar grafik dari suatu persamaan, namun ketika diminta menjelaskan keterkaitan antar variabel dalam konteks soal, mereka mengalami kesulitan. Ia mengajak para peserta untuk lebih kritis dalam mengevaluasi hasil belajar peserta didik, tidak hanya dari hasil akhir, tetapi dari proses berpikir yang melatarbelakanginya. Selain itu, Dr. Dona juga memaparkan hasil penelitiannya terkait pola berpikir mahasiswa berdasarkan data empiris dari studi kasus. Sebagai penutup, Dr. Dona mengajak seluruh peserta untuk terus menggali pendekatan pembelajaran yang tidak hanya menekankan pada prosedur, tetapi juga mengedepankan makna dan konsep. “Pemahaman konsep adalah jantung dari representasi matematis yang bermakna. Tanpa itu, translasi hanyalah bentuk imitasi berpikir,” pungkasnya.